Friday, October 12, 2007

Move to Qatar (Part III)


Lanjutan yang kemaren........

Tanggal 28 Juni malam, akhirnya kami berangkat dari Soekarno-Hatta. RasGas menyiapkan e-ticket Emirates 2 adults & 3 Childs. Walaupun Rania masih < dari 2 tahun, tapi tetap disiapkan ticket Child agar perjalanan tetap nyaman. Anak-anak ku sudah tak sabar untuk menikmati overseas trip pertamanya.....terutama Kresna yang paling punya obsesi untuk mencoba B-777 ER nya Emirates.

Rute yang ditempuh : Jakarta-Singapore-Dubai-Doha. Sebenarnya rute normal Emirates tsb transit juga di Colombo, tapi karena saat itu ada ancaman dari pemberontak Tamil Eelam, shg Emirates membekukan sementara rute transit di Colombo. Boeing 777-ER Emirates memang nyaman, semua kursi termasuk economy class dilengkapi dengan PTV yg membuat kita semalaman explorasi movie maupun games.....(ini makanan buat Kresna...). Semua flight data juga bisa kita access dr PTV ini, termasuk camera dari nose dan bottom aircraft (pengalaman saya yg bisa menyamai flight ini adalah SQ ke Eropa......2 kali naik SQ, pertama ke Copenhagen, kedua ke Frankfurt).

Transit di Changi, Singapore tengah malam, rada gak enak karena semua penumpang diwajibkan turun (karena pesawat akan di cleaning)...gak seperti Qatar Airways, yg penumpangnya boleh nunggu di dalam pesawat. Wah repot banget buat kami yang bawa handcarry banyak....(maklum pindahan nih...). Masuk ke Changi langsung queue lagi untuk masuk ruang tunggu...tp cukup terhibur dengan suasana Changi yang nyaman.....Lepas tengah malam, pesawat kami tinggal landas sesuai jadual menuju ke Dubai..

Pagi hari pesawat sudah menjejakkan rodanya di runway Dubai International Airport. Bandara terbesar dan tersibuk di kawasan middle east. Setelah pesawat parkir di appron, kami segera masuk ke terminal bandara yang luar biasa besar, modern dan mewah !!. Saya rasa Changi pun kalah besar dibandingkan dengan Dubai -cuma Changi memang paling bersih-....Sekitar 2 jam kami berada di Dubai airport, kami gunakan untuk sight seeing selain tentunya mengurus pindah pesawat. Penerbangan ke Doha menggunakan Airbus A-330 200 yang size nya lebih kecil dibandingkan B-777 ER.

Jam menunjukkan sekitar pukul 09.10 pagi saat landing di Doha International Airport. Terlihat kesibukan bandara ini pada pagi hari, karena penerbangan long haul rata-rata tiba pagi hari. Di arrival hall, kami dijemput oleh Al-Waha representative yang membantu kami untuk urusan imigrasi sampai ke hotel counter. Layanan ini memang standar yang diberikan oleh RasGas untuk kami karyawan level senior staff. Kalo tidak menggunakan Al-Waha, wah antri cap passpornya luar biasa panjang......bisa antri 1/2 jam an deh.......Di hotel counter, telah menunggu limousine driver yang akan mengantar kami ke Hotel Intercontinental Doha. Sebuah hotel bintang 5 yg terletak di west bay area. Mobil yang digunakan adalah BMW 523 yang luar biasa nyaman sekali duduk di dalamnya. Anak-anak sampai keenakan duduk di cabin mobil buatan jerman tersebut.

Sekitar jam 10, kami sudah bisa merebahkan diri di kamar 203 & 205 Intercontinental Hotel yang nyaman.....Perusahaan memberikan jatah 2 kamar yg interconnecting selama 2 minggu. Fasilitas yg diberikan adalah :
1. Makan di restoran manapun di Hotel senilai QR 300 per orang per hari (so jadi total jatah kami QR 1500/hari)
2. Laundry QR 400 per orang per minggu.
3. Internet access free of charge
Karena jatah yg diberikan sangat banyak buat kami, setiap makan (biasanya kalo breakfast dan lunch kami minta room service) minta airnya Evian dan lengkap dengan dessert ice cream nya....itupun belum melebihi QR 1500...rata-rata kami habiskan QR 300-QR 400, so sehari sekitar QR 900-1200 aja. Karena masih ada sisa jatah, kadang kami mengundang Oom Yudi dan Oom Agung untuk dinner di restoran hotel. Untuk laundry biasanya kami kirim paketnya 2 hari sekali, yg kami optimise jumlah piecenya agar bisa mendekati QR 400 seminggunya. Selam di hotel ini, biasanya Kresna dan Syifa berenang dan main di pantai untuk mengurangi kejenuhan. Selain itu kami sering diajak Oom Yudi dan Oom Agung untuk jalan-jalan menggunakan mobil barunya oom Yudi (Honda MRV), biasanya ke City Center atau ke Lulu Hypermarket.

Hari pertama masuk kantor, ketemu sama Hendra Suryakusumah (orang Bandung) bagian IT -Senior System Analyst (SAP)-, yg sebelumnya kerja di Adnoc Abu-Dhabi. Teman lain yang bareng hari itu adalah Anil Chada orang India -Senior Buyer- di bagian Procurement, dan Janting Angi -mantan Petronas- di bagian Operation. Besoknya masuk lagi Balbir Singh Garia, mantan Captain LPG vessel yang jadi Marine Advisor di RasGas. Dari Intercon, jam 5.50 kami diantar dengan Toyota coaster ke Doha Golf Club, untuk selanjutnya naik Bus RasGas ke kantor di Ras Laffan. Sampai di Ras Laffan sekitar jam 7.15.

Hari pertama, acaranya briefing oleh HR representative tentang semua aturan di RG termasuk menandatangi Business Conduct Policy. Yaitu semacam pernyataan bahwa kita akan selalu compliance dengan regulasi dan konvensi yg diterapkan RG. Hari itu juga kita mendapatkan nomer SAP (kalo di Bontang ya NPK or Nomer karyawan lah)....juga diberikan 1/2 kali gaji dan furniture allowance (QR 55,000). Setelah urusan dengan HR selesai, diantar oleh HR assistant saya dibawa ke Commercial & Shipping Group untuk dikenalkan. Oom Agung yang memandu saya berkenalan dengan personil di Allocation & Planning Dept. Setelah itu, saya di bawa muter oleh pak Shahrin (LNG Planning Engineer) untuk kenalan dengan semua di Commercial & Shipping Group. Sebagai gambaran, Commercial dan Shipping Group Manager langsung dibawah MD (Managing Director) dan mempunyai 5 Departemen yaitu :
1. Production Allocation & Planning Department (tempat saya....yg ngurusin alokasi produksi dan perencanaan penjualan semua produk -LNG, By-products, & Gas-)
2. Shipping Department (yg ngatur kapal....)
3. Sales Contract Department (yg mengawasi bisnis dr sisi kontrak)
4. Joint Interest Department (yg ngurusin semua bisnis dg pihak lain yg punya joint facilities spt Oryx, DEL, Qatargas, dll)
5. Commercial Department (yg ngurusin customer dan tetek bengeknya)

Di sini tugas saya melakukan Optimasi Gas Business, yaitu mengurusi gas sales dari AKG (Al-Khaleej Gas plant milik Exxon Mobil Qatar Ltd.) ke customer domestik yaitu RLPC (power plant), Q Power (power plant), Oryx (GTL plant), QP Mesaieed (Back-up gas untuk industri di Mesaieed). Urusannya meliputi perencanaan produksi gas, penjualan gas, maintenance schedule plant, offshore maupun pigging activities....ya kalo di Bontang seperti kerjaan East Kalimantan Gas Coordinator lah. Untuk mendukung pekerjaan ini saya diberikan sebuah ruangan kerja, laptop Compaq, telephone yg bisa akses internasional, uang untuk beli handphone, tunjangan handphone QR 400/bulan (sekitar Rp 1 juta), fasilitas internet, dan semua akses ke Comm & Shipp data. Fasilitas internet di sini hanya bisa digunakan untuk urusan pekerjaan, karena penggunaanya diawasi oleh section khusus di IT. Oleh karenanya saya gak bisa pake YM an seperti di Bontang dulu..........(sebenernya bisa saja dipasang, tapi nanti gak enak karena bukan urusan kerjaan).

Sekitar seminggu saya orientasi, mempelajari network gas business AKG maupun semua contact personnya termasuk semua kontrak yg ada. Setelah itu langsung online........wah pusing juga...tapi ya disini langsung "nyemplung" ke kerjaan karena dianggap kita experienced. Alhamdulillah dalam tempo tiga minggu saya sudah bisa enjoy dengan pekerjaan ini, termasuk kerjaan meeting dengan Exxon dan AKG Asset Team.

Yang terberat adalah saat meeting dengan Exxon ALT team, karena dari RasGas hanya ALPL Manager, saya, AKG Asset Manager dan AKG Finance. Sisanya dari Exxon AKG board (AKG sales manager, AKG Production advisor, AKG Development Manager, dan kaki tangannya) yang rata-rata teliti serta straight forward...spt gaya Exxon pada umumnya. Dalam monthly meeting ini saya harus melaporkan KPI sales volume serta analisisnya untuk didiskusikan dan diambil action plan nya. Beruntung saya sudah cukup kenyang makan asam garam meeting di KMI maupun East Kal GCM, so gak kaget dan mudah beradaptasi. Yg perlu saya sesuaikan adalah gaya meeting mereka yang teliti dan straight forward. Dari perkerjaan ini, saya secara langsung bisa berkenalan dengan para petinggi Exxon di Qatar dan terlibat dalam pembahasan isu-isu penting dan stratejik yang akan Exxon lakukan di Qatar.

Dah dulu ya...capek nih...ntar dilanjutin lagi....

Saturday, September 29, 2007

Move to Qatar (Part II)

Maaf baru saat ini saya bisa update cerita move to Qatar nya...maklum selama proses pindahan sibuk sekali...

Sedikit flashback.......
Meninggalkan Bontang sungguh suatu moment yang sangat berat untuk di lalui.....10 tahun lebih bersenyawa dengan Bontang membuat energi aktivasi untuk pergi menjadi sangat besar.....tetapi semuanya kembali kepada kehendakNya yang mengharuskan kami untuk meninggalkan kota tercinta ini.

Pagi itu 9 Juni 2007, kami meninggalkan Bontang dengan mengendarai mobil menuju ke Balikpapan untuk selanjutnya menumpang pesawat Batavia ke Banjarmasin.
3 hari saja kami di Banjarmasin, di sana orang tua kami dan saudara-saudara sudah menyiapkan acara selamatan sekaligus "farewell" agar perjalanan kami lancar dan selamat sampai di tujuan serta kepindahan kami membawa rahmat dan berkah buat semua keluarga.
Setelah Banjarmasin, tujuan kami berikutnya adalah Jakarta....tempat Ibunda saya dan kakak-kakak saya bermukim.

Di Jakarta, selain mengunjungi ibu, kami juga menyempatkan diri untuk "berburu" furniture karena di Doha harga furniture relatif lebih mahal dibandingkan di Jakarta. Kebetulan perusahaan saya yg baru -RasGas- memberikan fasilitas personal effect shipment (bisa lewat airfreight ataupun seafreight), jadi sayang kalo tidak dimanfaatkan. Untuk case saya, plafond nya mencapai 660 kg airfreight atau setara dengan USD 5500 seafreight. Untuk menyewa satu container 20 ft Jkt-Doha biayanya hanya USD 4100, so sangat feasible untuk mengirim semua barang yg kita inginkan dari Jakarta ke Doha. Untuk furniture sendiri harus dibeli karena villa yang akan kami tinggali di sana berupa semi furnished (baru ada peralatan dapur, hrs beli sofa dan bed sendiri). Perusahaan memberikan furniture allowance sebanyak QR 55000 (sekitar Rp 137.5 juta, kebetulan angka ini baru saja naik per 1 Juni dari sebelumnya QR 45000)...jumlah yang sangat lebih dari cukup untuk membeli sofa tamu, sofa majelis, meja makan, tempat tidur & kasur, meja belajar dan rak buku.

Lumayan capek juga berburu furniture serta pernak-pernik peralatan rumah tangga lainnya. Bolak-balik ke Plaza mebel di Fatmawati (pernah ke Index di Mal Artha Gading, tapi ternyata mahal-mahal...), juga bolak-balik ke Carrefour Lebak Bulus maupun Depok untuk beli barang2 kecil sampe beli2 supermi + bumbu dapur....
Singkat cerita semua barang sudah selesai di packed ditambah barang dari Bontang yang baru datang, segera diambil oleh RPX-Fedex (freight forwarder yg akan mengirim barang kami). RPX sangat prefesional, semua barang yg meragukan packingnya akan dibongkar dan di packing lagi agar aman, dan itu sudah termasuk dalam biaya yg USD 4100 tadi. Seminggu sebelum keberangkatan kami ke Doha, urusan container sudah selesai....selanjutnya kami segera pergi ke Yogyakarta untuk "nyekar" makam bapak sambil pamitan ke keluarga yang ada di Yogya.

2 hari penuh kami habiskan di Yogya untuk pamitan sambil memuaskan diri menikmati makanan-makanan favorit kami......yang nantinya tidak akan kami jumpai di Qatar sana....

Oh iya sebelum ke Jogja, kami menyempatkan diri juga berlibur ke Bandung sekalian "njagong" manten dik Dian (putrinya pak Djoko). Bermalam di Grandhotel Preanger, kami menyempatkan diri ke puncak Tangkuban Perahu sambil saya sedikit bernostalgia ke Cimahi dan melewati jalan "tour de Tangkuban Perahu" yg 23 tahun yg lalu saya lalui dengan bersepeda.......Separuh hari kami habiskan untuk mengunjungi factory outlet dan pasar baru Bandung.....Cukup puas kami berlibur di Bandung, sebelum bertolak ke Doha......

(to be continued)